+62 21 5818362

“Menggapai Bintang dan Matahari”


VOXPOPULINDO.com, Jakarta- Menggapai Bintang dan Matahari. Apa mungkin? Tapi itulah judul buku kumpulan puisi karya Presiden RI ke-6 (2004-2014), juga Ketua Umum Partai Demokrat, Prof Dr H Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan beberapa anggota Cadaka Dharma 73, paguyuban alumni Akabri lulusan 1973.


Penyelaras bahasa dari Penerbit Grasindo, Adi Pramono menceritakan ketatnya proses hingga buku tersebut diluncurkan di Sasana Kriya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Selasa (9/8/2016).


Bersumber dari 46 perwira TNI dan Polri se-angkatan SBY, buku itu berisi 171 puisi yang dibagi dalam tujuh episode, dengan tema berbeda. Buku tersebut, jelas Adi, diajukan Cadaka Dharma 73 pada sekitar November 2015. Namun baru bisa terbit pada Agustus tahun ini. Padahal, penerbit hanya bertugas mencetak naskah yang diserahkan dan membuat rancangan sampul.


Khusus untuk SBY, Adi menyebutkan,  penggagas dan pendiri utama Partai Demokrat itu teramat hati-hati sebelum karyanya diterbitkan. “Pak Darmawan bilang, untuk tanda tangan persetujuan, Pak SBY merasa lebih berat ketimbang saat menandatangani Keppres (Keputusan Presiden),” kata Adi.


Kehati-hatian dalam menyusun kumpulan karya sastra para perwira yang telah pensiun, diakui ketua panitia penyusunan buku tersebut, Laksamana Muda (Purn) Darmawan. Menurutnya, selain ada semacam seleksi kualitas puisi yang mereka tampung, detil penulisan juga turut mendapat perhatian.


“Kami juga lihat hingga titik komanya,” kata Darmawan dalam kesempatan terpisah. Mekanisme pengumpulan karya teman-teman seangkatannya, diakui mantan Atase Pertahanan Indonesia di New Delhi, India, sempat berubah-ubah.


Pada awalnya Darmawan mengumumkan pada seluruh anggota Cadaka Dharma 73 yang memiliki koleksi puisi agar dapat diserahkan untuk diterbitkan. Kemudian, karena beberapa sebab yang tidak dia rinci, mekanisme berubah. “Jadi pengumpulannya per-angkatan. Ya kami harus menghormati jiwa korsa,” Darmawan menyebutkan.


Sedangkan SBY sebagai pencetus buku setebal 316 halaman itu sama sekali tidak menyinggung dalam sambutannya. Hanya dalam sambutan yang tercetak dalam buku tersebut, suami dari Hj Kristiani Herawati Yudhoyono  menyatakan seluruh puisi yang ada dalam buku tersebut bukan hasil saduran. “Kumpulan puisi ini kami tulis sendiri, adalah salah satu saja dari seribu memori yang tersimpan dalam hati dan kenangan kami,” SBY menulis.


Bernada tajam

Dalam acara peluncuran sekaligus silaturahmi antara lulusan Akabri ini, SBY tampak santai. Meski hadir dengan pengawalan beberapa personel Paspampres, dia tampak menyalami satu demi satu teman se-angkatanya ketika masuk hingga duduk di kursi yang telah dipersiapkan untuknya.


Tampak SBY duduk bersama dua anak buahnya selama menjabat. Mereka adalah mantan Kapolri Jenderal Polisi Purn Sutanto dan Mantan Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM, Marsekal Purn Djoko Suyanto.


Pada kesempatan tersebut SBY bahkan sempat menyumbang satu lagu berjudul “Biarlah Bulan Bicara”. Tembang yang dipopulerkan Broery Marantika itu juga menutup acara tersebut.


Di antara karyanya yang terbit dalam buku kumpulan puisi itu, SBY memasukkan satu puisi bernada tajam. Karya sastra berjudul “Siapa Salah” sekilas bernuansa perihal masalah pemillihan umum yang dia tulis pada 28 Juli 2008.


Siapa Salah

Kenapa kau kalah Sang Kandidat ?

Ya, bagaimana aku tidak kalah

Tim kampanyeku payah

Partaiku banyak masalah

Pengikutku juga mudah menyerah

Ooo,itu penyebabnya

Bukan hanya itu, KPU-nya kacau dan gamang

Saya yakin lawan saya pun curang

Pasti tidak pula mereka punya uang

Nah, kalau kesalahan kamu ?

Kesalahanku..

Aku salah memilih orang-orang

Mungkin, ada juga kekurangan kamu sendiri?

Kekuranganku,

Seharusnya mereka saya pecat dan saya tendang.

(demokrat.or.id)


Berita Terkait
Buat Komentar Anda