+62 21 5818362

Keluarga 'Presiden' Sebarkan Virus Positif


VOXPOPULINDO.com, Bandung- Di Indonesia, Sebutan RI-1 disematkan kepada presiden, adapun RI-2 mengacu pada jabatan wakil presiden. Dan pemilihan presiden serta wakilnya berlangsung lima tahun sekali. Namun hal itu tidak berlaku bagi pasangan Helfizar Muhammad Shaleh (49th) dan Sri Dewi Anggraini (45). Sejak belasan tahun lalu mereka telah memiliki 'presiden' dan wakilnya' dengan istilah sedikit berbeda; R1 dan R2.


Istilah R1 disandang si sulung, Muhammad Rizal Assiddiq (18). Adapun R2 sebutan bagi sang adik, Mahdi Raihan Dermawan (14). Seperti halnya tugas presiden, keduanya diharapkan mampu menjadi pemimpin. "Sebutan R1 dan R2 untuk memudahkan dalam pencatatan kegiatan dengan kebutuhan mereka," ujar Dewi tentang sebutan nama bagi kedua putranya. 


Dalam keseharian pun, kebutuhan dua anaknya menggunakan embel-embel serupa. "Misal uang saku bang Rizal kita ganti dengan US R1. Ada lagi singkatan IP R2, itu artinya infaq pendidikan untuk bang Raihan," ujar Dewi yang terbiasa memanggil dua anaknya dengan sebutan bang di depan nama anaknya.


Sesungguhnya, pasangan yang tinggal di Perumahan Bumi Sariwangi (BSW) 1 Blok M6, Parongpong Bandung Barat, sempat berkeinginan memiliki banyak putra-putri. Sehingga disepakati menggunakan singkatan untuk memudahkan jika anaknya banyak. Allah berkehendak lain, dua anak cukup membahagiakan mereka. Sebutan R1 dan R2 tetap disandang anak-anaknya. 


Yang tidak bisa dibayangkan betapa repotnya jika Ririn, panggilan sayang bagi Dewi di keluarganya, dikarunia banyak anak. Betapa tidak, ia tentu harus menyisihkan banyak waktu lebih banyak lagi memantau, bahkan menyeleksi, teman anaknya. Saat ini R1 dan R2 tak sembarangan memiliki teman, tanpa sepengetahuan orang tuanya.


Dewi senantiasa menyempatkan ikut saat sang buah hati akan bertemu teman atau kelompoknya. Dari acara inilah, ia bisa mengenal lebih dekat dengan keluarga teman anak-anaknya. Dewi lah yang memberi ketegasan jika melihat indikasi 'calon' teman anaknya terlihat liar. Ia tidak akan memberikan izin anaknya bergaul dengan mereka yang masuk dalam kategori 'tidak terkendali'.


Dewi dan para orang tua pada umumnya, tentu mafhum, lingkungan di luar rumah, tak selamanya bisa disebut aman. Bahkan sekolah pun tak bisa menjadi jaminan. Jika sekolah tak lagi menjadi tempat aman bagi anak-anak, kemana lagi generasi penerus bangsa itu bisa terpenuhi kewajiban hidup yang paling dasar?


Lubang Mengerikan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan mengakui lingkungan sekolah menjadi salah satu lingkungan yang rentan terhadap tindak kekerasan, tidak hanya kekerasan seksual. Berdasarkan data dari Kemendikbud sebanyak 84% siswa pernah mengalami kekerasan di sekolah dan pelakunya dapat berasal dari kalangan siswa ataupun tenaga pengajar seperti guru. 


Belum ada penurunan yang signifikan sepanjang 2010-2015. Angka ini mengkhawatirkan untuk itu perlu ada upaya yang sangat serius untuk mengantisipasinya,“ kata Anies Baswedan Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komite III DPD RI terkait penyusunan RUU tentang Penghapusan Kekerasan Seksual, pertengahan Juni 2016 di Jakarta (www.voxpopulindo.com, 13/6/2016).


Salah satu langkah yang diambil Kemendikbud dalam menanggulangi tindak kekerasan adalah dengan menyusun sejumlah regulasi yang sasarannya semua pihak di lingkungan sekolah. Tujuannya, membangun sistem pendidikan yang dapat mencegah tindak kekerasan.


Dengan demikian, pendidikan di Indonesia mempunyai dua tantangan sekaligus; kualitas pendidikan serta ancaman kekerasan di lingkungan sekolah. Dan masyarakat punya peranan penting untuk membantu mengatasi persoalan tersebut. Pasangan Hefizar dan Dewi punya jawaban menarik yang telah mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Potret kehidupan keluarga menjadi cerminan bagaimana anak-anak mereka nantinya terjun dalam kehidupan nyata menularkan virus positif, termasuk ke sekolah.


Pendidikan Karakter Anak

Bandung disergap kabut ketika Helfizar menggandeng dua anaknya berjalan 300 meter menuju Masjid Al Aniyah di Perumahan BSW 1, Bandung Barat. Kumandang suara adzan harus segera dijawab dengan bergegas ke masjid. Kesibukan sang bapak sebagai dokter hewan yang bekerja di Perusahaan Farmasi Nasional Divisi Veteriner, Taman Sari 10 Bandung, mengharuskan, sang bapak sering bepergian keluar kota. Dalam kondisi seperti itu, mama lah yang akan mengantar mereka ke masjid.  “Kami berdua mengenalkan anak-anak kepada Allah. Kami biasakan mereka pergi ke masjid, membaca Al Quran. Ini cara kami untuk mengenalkan Islam kepada anak-anak,” ujar Dewi.


Anak diibaratkan seperti tanah liat yang lentur, bisa dibuat berbagai bentuk mengikuti ‘cetakan’ orang tua atau lingkungan sekitar. Sisi mana yang paling dominan mempengaruhi, seperti itulah nantinya karakter anak-anak nantinya. Bagi Dewi, faktor spiritual berperan penting dalam menangkal segala ekses negatif yang banyak beterbaran di luar rumah.


“Sebenarnya sejak anak berada dalam kandungan, mungkin tanpa sadar atau tanpa sengaja orangtua telah menanam benih bagi karakter mereka kelak,” katanya. “Pembiasaan atau kegiatan rutin atau kejadian luar biasa di lingkungan terdekat saat mereka bertumbuh di usia dini sangat dominan mempengaruhi karakter mereka. Karakter dasar mereka terus terbentuk hingga mereka menjelang dewasa. Sudah bisa terlihat karakter dominan mereka pada rentang usia 7-10 thn.”


Ada contoh menarik ketika R2 masih berusia 7 tahun. Raihan kecil saat menonton tv tiba-tiba menyembunyikan mukanya. “Ketika ditanya, inilah jawabannya," Ituu kelihatan auratnya (sambil menunjuk tayangan di teve. Subhanallah...,” tutur Dewi.


Ketika R1 beranjak dewasa, ada aturan tambahan yang diterapkan. "R1 tak boleh seenaknya pamit tidak pulang karena menginap di rumah teman. Saya harus tahu dulu rumah mana yang akan dijadikan bermalam, saya harus kenal dengan orang tuanya," tutur Dewi.


Keluarga Helfizar menanamkan pemahaman, bahwa hidup di dunia adalah rangkaian kerjasama antar-sesama. Tidak ada istilah pesaing, kompetitor. Terkesan sederhana, namun sesungguhnya mampu menghapus praktek sikut-sikutan di antara teman. Ketika riklah atau liburan, senantiasa anak-anak dikenalkan pada lingkungan sejuk, panorama indah merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Ini untuk membiasakan anak-anak tidak sombong, bahwa di atas langit masih ada langit.


Langkah lain yang juga ditempuh pasangan Helfizar dan Dewi adalah menjalin komunikasi dengan sekolah tempat anaknya menuntut ilmu. Dewi berperan aktif dalam kegiatan yang diselenggarakan di sekolah. Dengan izin suaminya, Dewi mundur sebagai tenaga medis agar bisa total berperan mendidik R1 dan R2. Namun bukan berarti Helfizar lepas dari tanggung jawab mendidik anak-anaknya.


Keduanya juga sadar anak-anaknya merupakan makhluk sosial yang perlu berinteraksi. Untuk mengasah potensi, R1 dan R2 sering disertakan oleh sekolah mengikuti lomba2, termasuk lomba Tahfidz, lomba Bahasa Inggris, bahasa Jerman, juga futsal, wushu serta memanah (hobi olahraga Nabi Muhammad SAW).

“Sekolah bisa menjadi wadah mereka untuk sosialisasi, berinteraksi dengan lingkungan masyarakat. Di sekolah, anak belajar mandiri, belajar bertanggung jawab, bisa mengekspresikan diri,” ujar Dewi

 
Memetik Hasil

Bernama lengkap Muhammad Rizal Assiddiq, sang pemilik predikat R1 diharapkan bisa meneladani akhlak Nabi Muhammad, dan mampu memimpin keluarga serta lingkungan sekitar, dan selalu berkata benar. Rizal kecil punya pengalaman membekas yang membuatnya lebih disiplin.  Sewaktu TK, ia telat hadir di sekolah. Pas sampai di pinggir jalan, Rizal kecil melihat bagaimana petugas sekolah menggembok gerbang sekolah. Ia hanya bisa melihat teman-temannya berbaris dan senam pagi. "Kejadian itu sangat terekam dan membekas di benak bang Rizal, dan dari kejadian itu, membuatnya sangat disiplin waktu," kenang Dewi.


Jerih payah mencetak karakter anak yang dilakukan Helfizar dan Dewi mulai kelihatan ‘hasilnya’. Sejak TK di Al Kautsar Malang Jatim, kemudian pindah TK Masjid Cipaganti Bandung, SDIT Daarul Fikri Bandung Barat, SMPIT As Syifa Boarding Scholl Subang, dan SMA PGII 1 Bandung, R1 selalu menempati peringkat tiga hingga lima. Agustus 2010 meraih predikat Tilawah alquran terbanyak.


"Alhamdulillah bang Rijal hafal juz 30 saat awal naik kelas 4 SD. Juara story telling, dan juara 1 Olimpiade Bahasa Jerman tingkat Propinsi Jawa Barat 2014," ujar Dewi. "Yang patut disyukuri, bang Rizal hampir selalu ditunjuk tasmi' atau tilawah jika ada kegiatan di sekolah (SMA), menjadi mentor adek kelas. Semoga Allah memberikan bang Rizal keteguhan pemahaman dan istiqomah dalam amal shaleh. Aamiin..." Kini R-1 tengah memburu biaya siswa kuliah di Madinah.


Prestasi R2 tak kalah moncer. Mahdi Raihan Dermawan (berarti imam yang terkenal karena akhlak dan gemar bersedekah sebagaimana khalifah Ustman bin Affan), juara tahsin, Juara Design Animasi, mendapat predikat sebagai siswa The Best Emotional Quotient 2012. “Alhamdulillah, bi idznillah.. bang Raihan berkesempatan ikut seleksi dan masuk karantina Tahfidz Qur'an dan bisa menyelesaikan 30 juz dalam waktu hampir 2 bulan,” ujar Dewi yang baru saja mengikuti wisuda Tahfidz Qur’an anaknya. “Yang spesial dan selalu ingat, bang Raihan seringkali meminta dengan verbal agar selalu didoakan ya mama.”


Jika ditanyakan kepada Dewi, apa yang paling ditakutkan terhadap anak-anaknya, ia mantap menggelengkan kepala. “Hampir tidak ada rasanya yaa? Karena, memilih sekolah dengan melibatkan Allah. Anak-anak yang akan menjalani sebagian waktu dan proses kehidupannya di sekolah.”


Dewi telah menularkan virus positif di lingkungan tempat tinggalnya, di sekolah R1 dan R2. "Banyak orang tua yang sukses mengantarkan anak-anaknya menjadi penghafal quran, namun saya melihat Bu Dewi sanggup mengantarkan ke dua putranya tidak cuma sebagai penghafal quran, tapi sukses di bidang lain. Benar kata beliau, beliau yakin, insyaa Allah jika tilawah Qur'an anak anak  bagus dan hafalan Qur'annya kuat dan banyak....dengan izin Allah, ilmu apa pun yang mereka pelajari akan mudah. Dan Bu Dewi beserta putra putranya membuktikannya," ujar Bunda Ami yang tinggal di perumahan BSW 1 Bandung.


Cerita Dewi mirip dengan kegigihan Sonai Kapoor yang mendirikan Yayasan Protsahan, organisasi nirlaba yang mengajarkan keterampilan kreatif, seperti fotografi, membuat film dan seni, matematika, bahasa Inggris, serta permainan mendidik untuk menginspirasi anak-anak di perkampungan kumuh di Vikas Nagar, 20 km barat pusat kota New Delhi. (bbc indonesia.com, 15/6/2016)


Kebiasaan orang tua di Vikas Nagar yang mengirim anak-anaknya ke rumah bordil sebagai mesin pencari uang keluarga, berganti pada virus positif yaitu membawa anak-anaknya untuk melanjutkan pendidikan. Ada semangat melanjutkan pendidikan. Inilah yang diharapkan, perubahan pada akhirnya menular ke masyarakat lain. Dewi, Sonai Kapoor dan wanita lain di berbagai belahan dunia, telah memberi teladan bahwa keluarga ikut memegang peranan pendidikan anak-anak. (djarot suprajitno)


Berita Terkait
Buat Komentar Anda