+62 21 5818362

Testimoni Keluarga Korban 'Brexit' Sarat Kesedihan


VOXPOPULINDO.com, Jakarta- Duka itu terjadi saat arus mudik Lebaran lalu. Dan bakal tak mudah terhapus begitu saja di benak mereka. Nurhasanah (19), yang baru lulus SMK NU 01 Kendal, Jawa Tengah, masih mampu merangkai jalinan cerita nestapa sang ibu, Sundari (58) mengakhiri hidup saat berada di tol Brebes (Brexit).


Sedianya, Minggu (3 Juli 2016) pagi, Sundari berkeinginan melepas rindu kepada Nurhasanah dan suami tercinta, Bejo (64). Malang. Maut merenggutnya dalam perjalanan saat bus yang ia tumpangi dihantam kemacetan parah di jalan tol Brebes. “Ibu meninggal di bus, Senin jam 10 pagi. Kabarnya karena sakit jantung,” Nurhasanah mengenang. Tatapannya menenerawang, seolah mengulang perjalanan hidupnya yang sarat duka.


Tulang Punggung Keluarga

Nurhasanah masih ingat, setahun sekali ibunda tercinta pulang kampung merayakan Lebaran bersama keluarga di kampung halamannya, Desa Purworejo, Kec Ringin Arum, Kendal. Nurhasanah menuturkan, sejak dirinya kelas IV SD, ayahnya, Bejo menderita buta akibat katarak. 


Sundari kemudian mengambil alih peran sebagai tulang punggung keluarga. Sundari menjalani hidup sebagai pembantu rumah tangga di kawasan Jelambar, Jakarta Barat. Tahun ini keinginan Sundari berkumpul dengan keluarga di Hari Idul Fitri hanya sebatas harapan. Sundari menjadi salah seorang dari 12 pemudik yang tewas di Brexit.

“Allah lebih sayang Ibu,” Nurhasanah menabahkan hatinya. Ia ikhlas dan berharap ibundanya berbahagia dan mendapat tempat terbaik di sisi Alah SWT.


Kini Nurhasanah menyiapkan diri untuk menjadi tulang punggung keluarga. Ia bersiap untuk bekerja di koperasi pabrik konfeksi yang terdapat di desanya. “Bantuan dari Demokrat ini akan saya pergunakan untuk membeli motor. Saya sudah bisa naik motor matic, diajari teman-teman tetapi belum punya motor sendiri,” ujar Nurhasanah saat menerima bantuan program #DemokratPeduliTragediTolBrebes, Selasa (19/7).


Duka Lain

Kisah duka lainnya karena kemacetan tol Brebes menghantam diri Siti Rukhayah, janda berusia  45 tahun.  Warga Desa Pojok Sari, Kec Rowosari, Kab Kendal tersebut harus kehilangan anak satu-satunya, Rizaldi Wibowo yang masih berusia 17 tahun.


Beratnya beban kehidupan mengharuskan ibu dan anak tersebut bertarung di Jakarta. Sang ibu menjadi pembantu rumah tangga, anaknya menjadi buruh di pabrik konfeksi, di kawasan Kalideres Jakarta Barat.


Rizal yang masih remaja tak ingin menjadi beban bagi ibunya. Mungkin karena ia paham sang ibu telah bertahun-tahun bekerja keras mulai dari menjadi TKW di Arab Saudi hingga jadi pembantu di Jakarta. Lebaran tahun ini, keduanya berencana merayakan hari besar itu di kampung halaman mereka. Melupakan sejenak kerasnya kehidupan.


Hampir dua pekan menjelang lebaran Siti Rukhayah pulang ke Kendal. Rizal bersama teman-teman sekampungnya menyusul mudik pada Minggu pagi (3 Juli), tepat saat puncak mudik terjadi.


Rizal, remaja yang baru setengah tahun berada di Jakarta, mengakhiri kisah hidupnya di dalam bus, di tengah kemacetan parah tol Brebes. Ia meninggal pada 5 Juli subuh. Jenazahnya baru tiba di kampung halaman Selasa tengah malam. Rabu dini hari, saat gema takbir terus bersahutan menyambut lebaran tiba, jenazah Rizal dimakamkan.


Santunan Demokrat

Kini Rukhayah belum tahu apa yang akan dilaksakannya kelak. Ia akan berembug dengan Nasori (40), adik lelakinya yang menjadi buruh tani, merencanakan hari depannya. Ia hanya berharap, Nasori akan melindunginya yang kini sebatang kara.

Dua keluarga korban kemacetan tol Brebes yang juga menerima bantuan Demokrat adalah  keluarga almarhumah Suhartati (52), warga Citerep, Bogor, Jabar, dan almarhumah Marijem, warga Sukoharjo.


Keluarga almarhumah Suhartati saat ini masih berada di kampung halamannya, Bantul, Yogyakarta (penerimaan bantuan diwakili ketua RT-nya). Sedangkan santunan untuk keluarga almarhumah Marijem diterima oleh anaknya, Eko Sartono (34 tahun), peternak ayam.

Eko mengenang ibunya sebagai seorang perempuan yang tak pernah henti bekerja keras, sejak ayahnya Kasimin meninggal. Marijem bersama anak perempuannya, Suprihatin (30), bekerja di Purwakarta, Jabar. Marijem berjualan jamu, Suprihatin dan suaminya berdagang bakso.


“Mudik di kampung halaman kami, Sukoharjo, biasanya menjadi saat yang membahagiakan,” Eko, yang tinggal di rumah mereka di Sukoharjo, mengenang.


Lebaran kali ini bukan bahagia tetapi duka mendalam yang tiba. Marijem meninggal setelah bertarung keras dengan kejamnya kemacetan di tol Brebes.


Di Gempol, Sukoharjo, Marijem memang pulang ke kampung halaman tetapi namanya hanya tinggal kenangan; ditatah di papan nisan. (demokrat.or.id)


Buat Komentar Anda