+62 21 5818362

Rokhmin Dahuri: Membangun Maritim dengan Pola Obat Nyamuk Cina (2-Habis)


VOXPOPULINDO.com, Jakarta- Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri menawarkan solusi yang bermanfaat bagi perekonomian Indonesia. Tentu dengan memanfaatkan potensi kekayaan laut. Berikut bagian terakhir wawancara Voxpopulindo.com dengan Rokhmin Dahuri.
T (Tanya): Apa solusi yang Anda tawarkan?

RD (Rohimin Dahuri); Untuk sektor penggerak, saya usulkan lima sektor. Di kelautan ada 11 sektor penggerak. Lima sektor penggerak harus dijalankan dalam 5 tahun pertama.

T: Apa saja lima faktor itu?

RD: Pertama, perikanan tangkap. Delapan persen pasokan ikan dunia, berasal dari Indonesia.

Kedua, sektor perikanan budi daya laut, kemudian sektor transportasi laut. Selain pelabuhan, pelayarannya harus kita kuasai. Coba lihat Cina yang luas daratannya ¾ itu, punya industri pelayaran. Denmark negara kecil, tapi punya shipping company terbesar di Dunia. Amerika juga demikian. Tranporasi laut ini menyangkut wisata bahari. Terumbu karang kita itu terindah di dunia.
Yang terakhir adalah industri maritim. PT PAL dibangkitkan, kemudian pabrik jaring jangan impor terus. Sekarang ini kita impor tersus. Dari kincir angin, kabel laut. Kan naif banget, kayak gak ada UGM.

Saya juga selalu menggunakan pendekatan kesejahteraan. Pendekatan security harus langsung jadi pararel dengan ekonomi.
Kita lihat fenomena Tiongkok sangat agresif di laut, berantem dengan Jepang, Vietnam. Siapa menguasai lautan, dialah penguasa dunia. Strategi negara imperium, negara besar, menguasai laut.

Saya tiga kali dalam setahun diundang sebagai dosen tamu ke Cina. Mereka simple dan menyadari tidak akan cukup mengandalkan produksi pangan, energi dari sumber yang ada. Harus dicari sumber alternatif. Dua minggu lalu Cina mulai membangun kota di atas laut, kemudian mencoba pertania kedelai dicocok tanam di laut.

T: Bagaimana dukungan pemerintah selama ini?

RD; Terus terang masih jauh dari yang dibutuhkan. Anggaran Departemen Kelautan setiap tahun hanya meningkat sekitar 20 persen.
Kalau Bu Mega (Presiden Megawati Soekarnoputri ketika itu) pernah naik 100 persen. Bahkan zaman Pak Sarwono (Menteri Kelautan) pernah naik 800 persen. Jadi ketika saya menjabat (anggaran) sudah langsung Rp2 triliun.

Waktu zaman Gus Dur, saya sodorkan konsep kayak model Sriwijaya yang membangun outer (seperti ring road di darat) yang menghubungkan antar-pelabuhan. Ini akan mengurangi beban aktivitas di kota.
Ada dua efek positif. Pertama adalah beban terhadap Jawa berkurang. Sekarang ini, bayangkan 62 persen pertumbuhan ekonomi disumbangkan Jawa. Padahal luas laha hanya 6 persen.
Singkat cerita kalau lagi musim hujan Jawa bajir, kalau lagi kemarau pasti kekeringan. Why? Karena hutannya 10 persen, padahal minimal harus 30 persen.

T: Apa yang harus dilakukan?
Lihat Cina membangun kayak obat nyamuk. Melingkar. Membangun di wilayah pesisir dulu Zhensen, Guangzhou, Shanghai, karena memang 85 persen angkutan disitu. Ini memakmurkan kawasan pesisir, infrastruktur baru dibangun, jalan kereta api menembus pedalaman.
Konsep saya, membangun drop centre untuk pertumbuhan di luar Jawa, khususnya di daerah pesisir. Ini akan lebih efisien membawa peran kita dalam rantai suplai global. Kalau sekarang kita hanya konsumen. Bangsa pengimpor. Kita bisa kok menjadi bangsa produsen. Nah kesalahan pemerintah, menurut saya, terlalu mengandalkan pertumbuhan sektor konsumsi.

T: Jadi Peran Departemen Kelautan akan semakin penting?
RD: Betul. Zaman Gus Dur kan bukan hanya Departemen Kelautan, didirikan juga Dewan Maritim Indonesia. Ketuanya langsung presiden, ketua hariannya menteri kelautan ex officio. Cuma kalau saya boleh kritisi, fungsi koordinasi mirip macamg ompong. Harusnya punya fungsi otoritas, dikasih power. Kalau ga ada power ya ga bisa nendang.

T: Kedepan, Departemen Kelautan seperti apa?
RD: Departemen kelautan akan kita bawa untuk menjawab permasalahan bangsa. Membangun kelautan untuk menjawab masalah pengangguran, kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan.
Jangan berpikir laut hanya sumber pangan. Kita sudah menghasilkan kosmetik farmasi. IPB sudah menemukan 5 jenis alga laut yang kandungan hidrokarbon nya 20%.
Jadi Insya Allah dengan pembangunan konektivitas kelautan atau tol laut, maka problem daya saing bisa kita perbaiki. (Nurul Amin-Fachry AB)


Buat Komentar Anda