+62 21 5818362

Rokhmin Dahuri; Memanfaatkan Potensi Kelautan Indonesia (1- Bersambung)


VOXPOPULINDO.com-  Sejak di dunia akademis dan di Pemerintahn Rokhmin Dahuri di kenal sebagai Ahli Kelautan, pemikirannya tentang kelautan telah banyak diterbitkan dan disampaikan dalam berbagai forum di dalam dan luar negeri. Kali ini khusus kepada Voxpopulindo.com, Rokhmin Dahuri menyampaikan pemikirannya tentang arti penting pengelolaan potensi kelautan bagi Indonesia. Tidak hanya dari aspek material, tetapi juga dari sisi spiritual.  

(T) Seberapa penting arti kelautan bagi negeri ini?

(RD) Arti pentingnya kelautan, menurut saya, terletak pada keunggulan kompetitif advantage. Kenapa begitu? Karena kita hidup di era globalisasi yang ciri utamanya adalah free trade, perdagangan bebas. Dengan kata lain bangsa yang survive, maju dan makmur adalah bangsa yang punya daya saing tinggi.

(T) Lantas kenapa harus laut yang menjadi pilihan?

(RD) Tiga perempat wilayah kita adalah laut. Indonesia punya 17.000 pulau, terbesar di dunia. Philipina di urutan kedua, cuma 7.100 pulau.

Kalau kelautan tidak dijadikan plafon pembangunan, hampir segalanya tidak efisien. Mau contoh? Biaya logistik di Indonesia paling mahal di dunia, 27 persen terhadap PDB negara lain.

Why negara logistik kita mahal? Karena transportasinya itu 85 persen barang dan komoditas bukan melalui mobil maupun udara, melainkan melalui kapal. Padahal transportasi laut kita jeblok. Bayangin 80 persen lebih barang yang kita ekspor tidak bisa melalui Pelabuhan Tanjung Priok tetapi harus melalui Singapura. Ongkos 1 kontainer dari Jakarta Surabaya, sama dengan ongkos kirim Singapura ke Los Angeles.

(T) Ada contoh lain?

Ini yang kedua. Kalau laut gak kita kuasai, ilegal economic  activities seperti illegal logging, illegal fishing, ilegal trading, menurut perhitungan Bapenas menimbulkan kerugian 300 triliun pertahun, akan terus terjadi.

Alasan ketiga, kita lihat rantai suplay global.  Sekitar 45 persen barang yang diperdagangkan di seluruh dunia dikapalkan melalui laut kita. Tapi kita gak dapat apa-apa, justru kita setiap tahun harus bayar 16 miliar dolar.

(T) Untuk apa pak?

(RD) Untuk bayar kapal asing. Karena 90 persen barang yang kita impor, bukan melalui Pelni bukan melalui Samudra Lines lagi. Peti kemas itu, itu sebagian besar Marsk dari Denmark, Evergreen Ttaiwan, Hanjin Korea, Cosco China. Singkat cerita 90 persen shipping company yang menguasai negeri ini adalah punya asing, itu yang kita bayar 16 miliar dolar pertahun.

(T) Artinya selama ini kita punya kesalahan kebijakan?

(RD) exactly

(T) Secara pribadi bagaimana Bapak berperan dalam pemanfaatan potensi kelautan Indonesia?

(RD) Saya terus berjuang, berikhtiar, menjadikan kelautan sebagai mainstream pembangunan nasional.

Alhamdulillah sejak Gusdur (menjadi Presiden RI) ada Kementerian (Kelautan). Tapi berbicara mengenai poros maritim, tidak hanya cukup di kementerian. Tapi juga pola berpikir, kemudian logistik dan konektivitas pun harus kelaut.

Saya dulu pernah memberi pengantar buku Agus Jamil mengenai Al Quran dan kelautan. Nah ini terkait pandangan masyarakat awam bahwa Islam itu berasosi ke padang pasir. Padahal seluruh teks Al Quran, luas laut 71 persen dari permukaan bumi. Ini bukan kebetulan, pasti design dari Allah.

(T) Adakah ayat dalam Al Quran yang secara tegas menyebutkan indikasi ke arah sana?

(RD) Dalam surat An-Nahl dikatakan Allah itu menundukkan lautan supaya kita berlayar, supaya kita bisa mengambil dagingnya, supaya kita bisa mengambil marjan atau perhiasan. Jadi itu persis seperti fungsi laut ekonomi.  Untuk transportasi, untuk food yaa, kemudian marjan kan bisa mutiara bisa energi.

Dalam tafsir Ibu Katsir, marjan bukan sekadar karang mutiara, tapi barokah. BerkahNya.  Nah untuk membangkitkan pergeseran paradigma dari pola darat kelaut, saya rasa jangan hanya dari segi ekonomi dan hankam. Harus disentuh pula persoalan spritual.

(Nurul Amin-Fachry Ab)


Buat Komentar Anda