+62 21 5818362

Mereka Mengetuk Pintu Allah, Bukan Istana


VOXPOPULINDO.com, Jakarta- Aksi Damai 212 memang telah berakhir, namun guratan kesuksesan masih mendatangkan gelombang respon. Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) misalnya, aksi damai 2 Desember 2016 yang berlangsung tertib akan meningkatkan iklim investasi nasional. 

Dua hari berselang, muncul aksi tandingan dari kelompok parpol pendukung Gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Guru Besar FISIP UI, DR Chusnul Mar'iyah punya pandangan tersendiri tentang dua aksi yang bertolak belakang ini.

"Saya tidak perlu ngotot berapa jumlah yg hadir di 411 dan di 212. ada yg bilang 50 rb satu juta, tujuh juta. silahkan saja. niat kita menentukan jumlah pasti dicatat oleh malaikat Allah. Karena dengan sengaja mengecilkan? karena dengan 'Ilmu' dan benar atau karena dengan 'Ilmu' tapi salah hitungannya karena tidak hadir di tempat? variabelnya salah, datanya salah? asumsi salah? atau saya tidak tahu, karena bukan bidang wilayah kemampuan saya." 

Insya Allah catatan malaikat Allah pasti benar, berapa jumlah yg pasti datang? dan catatan itu tdk bisa dihapus oleh manusia yang mencoba mengecil2kan, masih ada variabel lain yang ingin hadir tapi dihalangi aparat? atau hatinya hadir tapi ada halangan-halangan lain, dan kegiatan di banyak kota pada saat yang sama. Teman saya Rosemary dia bilang hadir di masjid di Medan. Adik saya Nanik juga ikut kegiatan di Palu. Mereka mengetuk pintu langit bukan pintu istana atau DPR. Alhamdulillah semua lancar, kita menunggu takdir Allah.

Saya membayangkan bak kita berada di Padang Mahsyar. Kita terpisah dengan rombongan dan khusuk dengan diri kita sendiri karena kita diajak berdzikir, air mata sejak berangkat dari rumah pagi-pagi buta sampai sekarangpun masih suka menangis membaca ceritera para jama'ah. Insya Allah Cinta Al Qur'an dapat terus memupuk iman kita. 

Saya yakin siapapun yg beriman dan ber-Islam dengan baik di negeri ini pasti menjadi warga negara Republik Indonesia dengan baik. Oleh karena itu kita terus bersyukur. Mari kita maknai Indonesia dengan rahmatan lil alamin. Jangan ummat Islam dipojok-pojokkan tidak memiliki jiwa Kebhinekaan. Kami tidak mampu menggunakan jargon yang tidak sesuai antara kata dan perbuatan berbeda. Kami takut masuk golongan kaum munafik. Naudlubillah. (sumber; Republika)


Berita Terkait
Buat Komentar Anda