+62 21 5818362

Mengukir Karakter Anak di Institut Keluarga


VOXPOPULINDO.com, Jakarta- Tak ada tempat menyenangkan seperti sekolah. Kenangan semasa duduk di bangku sekolah dasar (SD) tak mudah terhapus. Mirip sebuah video dokumenter, hal-hal mengesankan sekaligus menakutkan sesekali terlintas di benak. Di usia 50 tahun, saya masih mampu menghapal kronologis bagaimana penghapus papan tulis terbang ke arah kepala hanya karena teman-teman kala SD tak bisa duduk diam. Atau adegan lain saat kami berpelukan dan menangis mengetahui seorang rekan tak lulus ujian.


Taman bermain bernama sekolah itu meninggalkan pelajaran hidup paling berharga. Bukan sekadar meraih angka seperti tertulis dalam raport. Sekolah merupakan tempat umum pertama bagi seseorang menjalani aktivitas sehari-hari di luar rumah, dan menjadi muara berbagai karakter individu anak. Masing-masing membawa kepribadian dan saling mempengaruhi. Jika sebagian besar anggota komunitas berperilaku menyimpang, kian kuat pula mereka memberi pengaruh.


Masa menjadi pelajar SD di tempo doeloe tentu berbeda dengan saat ini. Browsing video cabul, permainan (play station) seperti berkelahi atau menembak secara perlahan-lahan mengubah perilaku anak-anak untuk terbiasa keras (untuk tidak mengatakan cenderung kasar). Awal Mei 2016, di Kota Surabaya, sembilan bocah ingusan, salah seorang di antaranya masih berusia 9 tahun, ditangkap karena memperkosa gadis 9 tahun. Walikota Surabaya Tri Rismaharini menemui tersangka untuk mengetahui dari mana mereka mencontoh perbuatan asusila. "Dari internet…!"


Sebagian besar tersangka merupakan teman sekolah korban. Selepas pelajaran sekolah, mereka kabur menuju warung internet. Jeda waktu antara sekolah dan rumah telah menjelma menjadi daerah abu-abu yang patut diwaspadai bersama. 


SD tempat anak saya bersekolah di kawasan Cipondoh, Tangerang mempunyai cara efisien untuk mengaturnya. Setiap anak mempunyai Buku Kegiatan yang wajib diisi setiap hari. Di sana tertulis, agenda/ kegiatan selama di sekolah, istirahat pukul berapa, pulang sekolah pukul berapa, dan dijemput oleh siapa. Siswa yang pulang sendiri karena rumahnya dekat sekolah atau kedua orang tuanya bekerja, mendapat perhatian ekstra. 


Setiba di rumah, Buku Kegiatan itu harus dibaca orang tua dan ditandatangani, berikut catatan dari orang tua, termasuk pukul berapa si anak tiba di rumah. Agenda lain pun dikisahkan, dari sholat subuh, mandi, sarapan, berangkat sekolah, pulang sekolah, tidur siang hari, bermain (dimana, dengan siapa), serta belajar sore/malam hari. Tiada hari tanpa catatan di Buku Kegiatan Siswa.


Rutinitas mengisi Buku Kegiatan, secara tidak sadar seperti stimulus bagi orang tua untuk kreatif mendidik anggota keluarga. Inilah komunitas terkecil dalam struktur sosial, namun mempunyai peranan penting dan pengaruh besar di lingkungan luar. Analogi yang paling sederhana; keluarga diibaratkan sebuah bangunan rumah. Ada jendela untuk melihat kondisi sekeliling. Ada pintu menuju halaman yang tersambung ke rimba belantara bernama kehidupan. Mereka yang terlatih secara intens akan mampu bertahan, begitu pula sebaliknya. 


Kemampuan Anak Indonesia

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan pernah membeberkan hasil kajian "Organisation for Economic Cooperation and Development" (OECD). "Soal kemampuan anak, Indonesia lebih lambat tiga tahun. Kemampuan matematika dan membaca amat lemah," kata Mendikbud dalam konferensi pers kajian OECD di Jakarta (www.suara.com, Kamis 26 Maret 2015). Bahkan berdasarkan laporan Unesco, tambah Mendiknas, kemampuan membaca anak indonesia berada pada urutan kedua terbawah (dari 65 negara yang berpartisipasi dalam program yang diselenggarakan lembaga itu). 


Lantas dari mana memulai mengasah kemampuan anak, termasuk dalam hal bertutur secara logis? Contoh menarik dituturkan seorang rekan yang membiasakan mengisi liburan di saat senggang (liburan). Jika tidak ke perpustakaan atau toko buku yang banyak beterbaran di pusat perbelanjaan, ia selalu mengajak anak-anaknya ke museum. Dokumen sejarah dibaca, diulang dan setiba di rumah diminta menuturkan pengalaman saat wisata ke museum.


Cerita adalah rangkaian informasi yang mengandung makna. Struktur kalimat yang digunakan saat bercerita terkait dengan kemampuan menggunakan logika. Pisau tajam bernada logika sudah seharusnya diasah sejak usia dini. Ketika pada akhirnya anak memulai lingkungan baru di sekolah, tinggal melanjutkan pondasi yang sudah terbangun. Ia terbiasa memetakan persoalan hingga mencari solusi. Semakin terbiasa untuk bercerita, berkisah atau bertutur akan membantunya untuk terbiasa menggunakan kerangka berpikir logis.


Anda yang dilahirkan sekitar tahun 1965 barangkali masih merasakan bagaimana orang tua mendongeng cerita pengantar tidur. Sosok cerdik termanifestasikan dalam binatang kancil, yang senantiasa lolos dalam kondisi terjepit sekalipun. Namun kancil  kena batunya tatkala meremehkan keong siput dengan mengajaknya adu lari. Kancil tak menduga jika lawan yang jalannya beringsut itu diam-diam menyusun strategi untuk berbaris dari start hingga finish. Setiap kali kancil yang berjalan santai memanggil lawannya, ia kaget karena posisi siput selalu berada di depan.


Moral cerita yang ingin dibangun adalah budaya dongeng mengajari anak-anak untuk menyimak, mendeskripsikan informasi yang diterima. Selain mentranformasi nilai kebajikan dalam cerita kancil, ada interaksi masing-masing anggota keluarga ketika cerita dikisahkan. Karena itu budaya mendongeng hendaknya dikampanyekan kembali di lingkungan keluarga dan berjenjang ke tingkat yang lebih luas lagi.


Dijamin UU

Dalam Pasal 1 (1) Undang Undang Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan, pendidikan adalah usaha dasar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat. bangsa dan negara.

Beberapa jenis pendidikan disebutkan dalam UU Sistem Pendidikan Nasional. yaitu pendidikan formal, pendidikan non-formal dan pendidikan informal. Khusus pendidikan informal (ayat 13) merupakan jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Dengan demikian, negara menyadari bahwa urusan pendidikan tidak semata-mata diserahkan kepada sebuah institusi, melainkan juga oleh keluarga dan lingkungan. Keluarga adalah institut kehidupan yang sesungguhnya dalam membentuk karakter/ kepribadian sang anak. 


Pahatan mengukir jati diri anak (kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual) ditentukan dari keluarga, kemudian ditularkan ke sekolah dan lingkungan luar. Dan persoalan terakhir yang tak kalah penting adalah menghapus pandangan selama ini bahwa tugas mendidik anak merupakan persoalan domestik kaum ibu. (djarot suprajitno)


Berita Terkait
Buat Komentar Anda