+62 21 5818362

Jadi Sahabat Anak Sekaligus Pengontrol


VOXPOPULINDO.com, Jakarta- Laga tim sepak bola Persija Jakarta melawan Sriwijaya FC dalam Torabica Soccer Championship di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jumat (24/6/2016) malam, diwarnai kericuhan. Kericuhan dipicu oleh aksi salah seorang pendukung Persija yang memaksa masuk lapangan saat Hilton Moreira membobol gawang Persija lewat tendangan bebasnya, pada menit ke-65. Aksi tersebut membuat The Jakmania lain ikut memasuki lapangan sehingga mengakibatkan pertandingan dihentikan.


Aksi brutal suporter berlanjut hingga membuat penonton lain terinjak-injak. Para suporter bahkan merusak pagar pembatas di sektor 13 dan 14 stadion. Bukan hanya mengancam jiwa penonton lain, aksi suporter Macan Kemayoran ini juga menyebabkan seorang pedagang minuman meninggal dunia, fasilitas umum dan kendaraan rusak, serta sejumlah anggota kepolisian jadi sasaran aksi kekerasan hingga menderita luka serius.


Tawuran ini pecah setelah Persija kalah 1-0 dari Sriwijaya FC. Aksi anarki para suporter ini diduga merupakan pelampiasan kekalahan tim kesayangan mereka. Mirisnya lagi, sebagian besar suporter yang terlibat tawuran ini masih di bawah umur, dengan rentang usia antara 16-18 tahun dan masih duduk di bangku sekolah.


Sungguh memprihatinkan, para pemuda ini justru memberikan cerminan betapa bobroknya mental generasi penerus bangsa. Pelampiasan emosi dengan kekerasan jelas bukan tindakan yang dapat dibenarkan.


Usia remaja memang rentan dengan kenakalan karena pada masa itu, anak mudah dipengaruhi dan terpancing emosi saat terjadi konflik. Emosi masih labil karena pada masa tersebut, pemuda baru mulai mencari jati diri. Aksi kekerasan seperti penindasan (bullying) dan perkelahian seperti tawuran kerap dianggap sebagai bentuk aktualisasi diri bagi mereka. Namun, hal tersebut jelas salah kaprah.


Dalam hal ini, peran orangtua dalam keluarga jelas sangat penting dalam membentuk watak dan mengontrol emosi anak sejak dini agar nantinya anak terhindar dari perilaku kasar.


Pada usia remaja (15-24 tahun), anak cenderung memiliki sifat pemberontak. Oleh sebab itu, pada masa ini, anak membutuhkan kontrol ekstra, terutama dari orangtua. Hindari terlalu mendikte anak atau memberikan nasihat yang terlalu menggurui. Jalinlah komunikasi dua arah dengan anak. Libatkan anak dalam diskusi kecil, misalnya soal peraturan atau tata tertib di rumah, serta hukuman sebagai konsekuensi dari pelanggaran. Dengan dilibatkan dalam diskusi keluarga, anak akan merasa dihormati dan mendapatkan perhatian karena masukan dan pendapatnya didengar.


Hindari memberikan hukuman fisik berupa tindak kekerasan, seperti memukul, mencubit, apalagi menampar. Beri hukuman yang mendidik agar anak belajar dari kesalahan dan tidak mengulanginya lagi.


Sebuah penelitian dari University of New Orleans, Amerika Serikat, menyebutkan tiga hukuman paling efektif untuk anak, antara lain:

1.   Berikan mereka waktu sendiri untuk merenungi kesalahannya. Setelah itu, baru ajak anak untuk mengobrol dan berdiskusi kecil, saat emosi anak dan orangtua sama-sama sudah mereda;

2.  Berikan tugas rumah tambahan sebagai hukuman untuk anak;

3. Tidak memperbolehkan anak melakukan aktivitas favoritnya untuk sementara waktu. Misalnya, tidak diizinkan bermain internet, menonton TV atau bermain game kesukaannya.

Tindak kekerasan bisa saja membuat anak dendam atau justru menganggap tindak kekerasan tersebut sebagai hal yang lazim dilakukan. Maka jangan heran, jika anak yang kerap mendapatkan kekerasan berpotensi menjadi pelaku tindak kekerasan di kemudian hari karena anak akan belajar dari hal yang mereka lihat dan alami di lingkungan terdekatnya, salah satunya keluarga.


Mengutip salah satu puisi pendidikan karya Dorothy Law Nollte, seorang pendidik dan ahli konseling keluarga asal Amerika Serikat, “jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi.”


Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar mengendalikan diri

Jika anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan kelembutan, maka ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia belajar percaya

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia belajar menghargai diri sendiri

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia belajar menemukan kasih dalam kehidupannya


Dorothy Law Nollte


 

Didik anak dengan kasih sayang, perhatian dan pengertian. Dengan demikian, anak tidak hanya akan mencintai dirinya sendiri, tetapi juga mencintai dan menghormati orang di sekitarnya.


Terlepas dari hal tersebut, orangtua tetap harus melakukan pengawasan. Pengawasan ini bukan berarti menjadi over protektif, melainkan menjadi suportif. Tidak ada salahnya orangtua mengetahui kegiatan atau kesibukan anak remajanya. Cari tahu dan coba antusias dengan musik, film atau buku kesukaan mereka. Dengan demikian, orangtua bisa menjadi sahabat terdekat anak, sekaligus memberikan kontrol terbaik kepada anak. (diah utami putri)


Berita Terkait
Buat Komentar Anda