+62 21 5818362

AHY; Antara Spirit dan Patriot


VOXPOPULINDO.com, Jakarta- Agus Harimurti Yudhoyono mencuri perhatian publik. Pertemuan putra Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (sBY) dengan Gibran Rakabuming, putra Presiden Joko Widodo di istana, sempat menjadi viral di media sosial. Pertemuan kedua anak sulung itu terjadi setelah Agus meminta restu Presiden Jokowi terkait peresmian The Yudhoyono Institute.

Selaku Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute, lembaga nirlaba tersebut akan melahirkan generasi masa depan dan calon pemimpin bangsa yang berjiwa patriotik, berakhlak baik dan unggul. Reporter Imelda Sari punya catatan menarik, perihal sepak terjang Agus, termasuk kekalahannya dalam Pilkada DKI beberapa waktu lalu.


Tahun 2004 di Cikeas, sebagai reporter, hanya dua bulan menjelang Pemilu Presiden. Saya mendapat kesempatan istimewa untuk mewawancarai Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan keluarga untuk dokumentasi video SBY: The Rising Star.

Adalah Ibu Ani Yudhoyono yang memberikan kesempatan tersebut kepada saya.

Mas Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), ketika itu, saya tanya tentang pandangannya mengenai sosok ayahnya?

“Beliau adalah role model saya.”

Lalu Mas Agus menjelaskan dengan detil dan penuh semangat tentang sosok ayahnya. Itu yang saya ingat, bagaimana hormat dan bangganya ia terhadap ayahnya.

Bagaimana dengan Ibu Ani?

Ibu buat Mas Agus segalanya. Yang menemani dan membacakan majalah Kuncung, disiplin dalam urusan sekolah namun selalu menjadi teman diskusi yang menyenangkan.

Adiknya, Mas Ibas, selalu yang ia perhatikan dan merupakan soul mate-nya.

Tahun berlalu. Pak SBY sudah menjadi Presiden selama 7 tahun. Suatu waktu di sela-sela kegiatan di Istana Bogor, Ibu Ani saat usai hunting foto di Istana Bogor. Sore itu hujan. Jadi jeda memotret. Dan, Ibu menunjukkan kepada saya sebuah foto. Ia memotret Sang Ayah diskusi dengan anaknya, Mas Agus, yang baru saja tiba dari bertugas.

Ibu Ani bilang begini, “Saya bersyukur sekali, Mel, melihat bapak dan anak sudah bisa berdiskusi panjang. Tugas saya paripurna sudah.” Ibu Ani berbicara dengan suara pelan.

Saya terharu mendengarnya. Saya memahami maksud Ibu. Sebagai seorang ibu, tugas yang berat adalah membimbing anaknya di bidang pendidikan. Juga siap dan matang untuk menjalankan kehidupannya di masa berikutnya.

Mei 2016, di Cikeas lagi. Perdebatan panjang terjadi di antara kami yang ikut rapat Pengurus Harian Terbatas DPP Partai Demokrat. Kami menginginkan untuk Pilkada DKI, Mas Agus diberikan kesempatan untuk maju.

Tetapi, salah satunya yang paling keras tidak mengizinkan, adalah Mas Ibas.

“Enggak bisa, harus mundur dari militer. Nanti kalau kalah gimana?” Itu adalah ungkapan seorang adik yang amat sayang kepada kakaknya.

Kami yang menginginkan Mas Agus maju menggunakan argumentasi dan menjelaskan peluang di Pilkada DKI.

Berikutnya, begitu keputusan sudah disepakati Rapat Partai Koalisi, malam itu, Mas Ibas adalah orang pertama yang menjemput abangnya di Halim Perdana Kusuma. Ia memastikan abangnya siap dengan segala risiko untuk ikut Pilkada DKI.

Kalau boleh jujur Keputusan Mas Agus malam itu, bersedia dan menerima untuk maju Pilkada DKI, membuat Pak SBY; Ibu Ani; Annisa; Mas Ibas; dan Aliya meski terlihat tegar–tetap saja bagi kami yang mengenal Pak SBY dan Ibu Ani–tampak paling shock. Karier militer tamat. Harus melalui kawah chandradimuka yang peluangnya masih dalam kisaran 2.1 %, berdasar survei Agustus 2016.

Annisa adalah segalanya untuk Mas Agus Yudhoyono. Ia adalah matahari yang selalu bersemangat dan mendorong suaminya untuk terus fokus, juga saat Pilkada DKI.

Pilkada DKI berlalu. Kami semua kembali harus ikhlas dengan hasil pilkada yang ada. Ramai yang ikut gerilya dan warga yang ramai di lapangan, belum membuahkan hasil diharapkan. Kami semua shock atas kekalahan tersebut.

Pidato Mas Agus pada 15 Februari 2017, saat ia tahu ia kalah, justru membuat semua orang terkagum-kagum padanya.

“Anak muda pantang menyerah, terus berjuang untuk yang terbaik.”

Butuh waktu sebulan untuk mengembalikan spirit yang hilang.

Kisah selanjutnya, Agustus 2017. Seorang anak muda yang kerap disebut “mayor ingusan” oleh kelompok pendukung paslon lainnya saat Pilkada DKI 2017 lalu, dengan langkah pasti dan senyum lebar menyapa wartawan di Istana. Usianya baru saja 39 tahun tanggal 10 Agustus 2017 ini. Ketika ia datang ke Istana menemui Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Memohon restu dan mengundang Presiden RI untuk launching The Yudhoyono Institute.

Presiden didampingi putra sulungnya Mas Gibran Rakabuming. Bahkan Mas Gibran sempat menjamu dengan  bubur lemu dan gudeg dalam suasana yang santai. Mas Agus menepis berbagai spekulasi atas kehadirannya menemui Presiden Jokowi, saat jumpa pers dengan wartawan Istana. Kehadirannya semata-mata hanya untuk minta restu dan dukungan Presiden RI atas  lembaga yang dipimpinnya.

Malamnya, Mas Agus, sebagai Direktur Eksekutif, melaunching The Yudhoyono Institute yang dihadiri lebih dari 1000 tamu dari berbagai kalangan di Djakarta Theater. Acara yang mendapat perhatian luas media.

Sebelum bertemu Presiden RI pada Kamis lalu, satu demi satu putra-putri Presiden RI I hingga V dihubungi, ditemui Mas Agus yang mengundang mereka untuk menghadiri launching The Yudhoyono Institute. Mas Guruh Soekarno Putra dan Mbak Yenny Wahid menerima dengan tangan terbuka.

Sebelumnya, Mas Agus juga hadir dan mencuri perhatian saat Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto bertemu dengan Ketua Umum Partai Demokrat SBY pada akhir Juli lalu di Cikeas untuk membahas terkait isu Presidential Threshold, pasca-ketok palu UU Pemilu di DPR. Peristiwa yang disebut dengan “diplomasi nasi goreng” oleh media.

Usianya baru 39 tahun. Saya bersyukur bisa melihat dan mengikuti dari dekat seorang anak muda yang matang dan cepat beradaptasi dalam politik. Militer, yang lulusan Harvard, dan pernah bertugas dalam misi perdamaian di PBB itu tidak mudah patah, fokus pada tujuan, dan selalu berusaha mencari solusi terbaik serta mempelajari setiap isu strategis dengan ukuran-ukuran yang jelas.

Seperti yang disampaikannya, “Setiap orang adalah patriot untuk bisa berkontribusi bagi negerinya.”

Di bulan kemerdekaan ini, satu teladan, tentang apa itu nasionalisme, diberikan melalui satu sosok anak muda bernama Agus Harimurti Yudhoyono. Saya teringat catatan lama mata kuliah historiografi, “Setiap generasi akan melahirkan sejarahnya sendiri.”

Sayup-sayup terdengar lagu “…Merah Putih teruslah kau berkibar…” dari Cokelat, mengingatkan saya, 17 Agustus tinggal beberapa hari lagi.

Selamat jelang Hari Kemerdekaan.

(Imelda Sari, wartawan, Pendiri National Press Club of Indonesia, Ketua Divisi Komunikasi Publik DPP Partai Demokrat, dan Juru Bicara Partai Demokrat.)


Berita Terkait
Buat Komentar Anda